Monolog - Dua Puluh Tiga Juni Eps 4

 


 

#MONOLOG JUNI; DIALOG JUNI-INDAH -4 (ABIMANA JUNIANTO RUMI

 

Rintik-rintik mulai turun selepas hujan besar mengguyur Kota kecil tempat Juni bermukim saat ini, titik-titik air tampaknya mulai jinak dengan irama jatuhannya, sedikit lebih pelan dibandingkan beberapa saat lalu. Udara malam yang berhembus seolah memaksa Kota kecil ini untuk ikut merasakan betapa dinginnya hawa selepas hujan reda. Sementara itu dari arah timur laut, deburan ombak semakin terlihat ganas, kilauan lampu-lampu kapal yang menyala membuat suasana di tengah lautan tidak begitu bergairah, terlihat sangat redup, biasanya cahaya lampu kapal itu terlihat seperti kunang-kunang, sangat indah, terlihat menggoda mata untuk terus memandangnya walaupun dari arah jauh, mungkin di lautan sedang kabut.

Malam itu Juni merasakan rindu yang amat sangat, entah kepada siapa rindu itu pantas disematkan, seperti tanpa tujuan yang jelas, mungkin Ia merasa kesepian. Pantas saja beberapa pekan terakhir ini Juni tampak begitu kurang bergairah, semangatnya terasa dibawa lari sang penunggang waktu. Beberapa waktu lalu sempat ada yang mencoba mengisi kesepian itu, namun akhirnya kandas oleh karena hal yang tidak diinginkan; takdir. Sempat terbesit dalam pikiran akan hal tersebut, jauh hari sebelumnya. Lantas bukan takdir namanya jika semua berjalan sesuai dengan kemauan sanubari, semesta punya cara tersendiri untuk menjelaskan betapa Esa-nya Sang Pencipta Alam semesta ini.

Sebuah tulisan sajak mengigatkan Juni tentang seseorang, sajak yang Ia tulis malam itu dengan hati bergetar, sajak kehilangan, bait katanya tersusun oleh kata-kata kehilangan; perampasan oleh takdir, alusi patah hati yang semakin terasa nyata terkandung. Benar saja, nyatanya kehilangan telah membuat Juni hilang gairah, redup ditengah terang, gersang di musim penghujan seperti sekarang. Huff..

Lagi-lagi Juni menghela napas dalam-dalam, keadaan seperti ini sungguh memaksa diri untuk merasakan hal yang seharusnya tidak menyenangkan, “Sialan, sialan, sialan” diulangnya tiga kali mantra itu, lantas dengan air muka yang sangat kusut Juni berseloroh kepada tonggak tiang yang mencula disela-sela deretan bangunan ruko.

 “Wahai tiang, maukah kau menggantikan hidupku?“ Terdengar suara lirih dari sela kerongkongan Juni. “Biarkan aku menjadimu yang mematung indah di perempatan sudut sana, hidupku sangat tidak menyenangkan. Apakah kau mau?" Dengan nada suara yang sedikit ditekan, terdengar lebih serak. Seperti teriakan yang ditahan; Sengau. “Maukah kau jadi aku sebentar saja?”

Bukan hendak mengeluh, justru hal semacam inilah yang telah membuat Juni setegar ini; sekuat ini, sedewasa ini sekarang, tanpa sengaja ada ucapan terimakasih yang tidak terungkap disana, syahdan.

            “Benar saja, ternyata rindu ini sungguh sangat menyiksa batin”

            “SIALAN”

Malam ini malam rabu, selamat memperingati hari raya rindu, baik itu rindu yang sedang menggebu-gebu, ataukah rindu tanpa tuju, seperti yang dirasakan oleh Juni malam ini, rindu yang melayu. Adakah sedikit temu rayu yang mungkin akan tercipta nanti? Sepertinya akan diperjelas dengan angan yang tidak pasti, sepertinya ada permainan puzzle yang dimainkan asik dalam benak Juni, ataukah hanya asumsi saja, entahlah.

            “Hallo, dengan siapa ini?” Juni menjawab telponnya. 

Tidak ada jawaban. 

            “Hallo, maaf ini siapa ya?”

Juni terdiam sejenak, tampaknya tidak ada suara yang membalas sapaan Juni. Kembali diliriknya nomor yang tertera di layar Handphonenya,

            “Tidak terdaftar”

Angguk Juni pelan seperti kepada dirinya sendiri, lantas dimatikan panggilan itu. Sejenak di tatap kembali oleh juni,

“Kriiiiing, kriiiiing, Kriiiiing” Kembali suara Handphonenya berdering,

“Iya, hallo”

“Juni, kamu apakabar?”

Terdengar sapaan pelan namun lembut berirama,

            “Maaf, ini siapa ya?”

            “Kamu lupa dengan suara ini?”

Sekilas terdengar tidak asing dengan nada bicara yang seperti itu,

            “Indah?”

Keduanya pun terdiam,

Namanya Indah, benar sekali ternyata yang menelepon Juni adalah mantan kekasihnya dulu, kekasih yang selalu di puja-puja dalam cerita kesehariannya, kekasih yang pernah menjadi angan-angan untuk tujuan hidupnya dimasa depan, kelak banyak harapan dan juga do’a yang telah Juni luruhkan pada sebuah nama yang sedang terlibat satu obrolan dengannya sekarang. Namun siapa sangka jika semesta lebih dulu bercerita lewat nyata, bahwa sesungguhnya sebuah harapan sering kali tidak sesuai dengan keinginan, begitulah hidup.

            “Iya benar, ini Indah Jun, Kamu apakabar? Kamu sekarang dimana?” Tanya Indah memecah keheningan.

            “Kabarku baik Ndah, lantas kabarmu?” Juni menjawab dengan pikiran kosong; semakin datar.

            “Aku baik kok, kamu kok ga jawab pertanyaan aku sih dari tadi?”

            “Kamu sibuk apa sekarang?”

Juni dihujani dengan beberapa pertanyaan sekaligus,

            “Aku,”

            “Aku sibuk memperbaiki diri Ndah”

Jawab Juni ketus,

            “Aku sibuk membangun kehidupanku yang baru, setelah kemarin ditimpa kemalangan hebat, sampai-sampai kamu pergi dalam diam, tanpa pamit pula”

            “Apakah kamu ingat Ndah? Kamu diam denganku dan hubungan kita tanpa mengucapkan sepatah kata apapun untuk sebuah kejelasan”

                "Diam berarti selesai, Aku menganggapnya demikian"

Tanpaknya Juni kembali teringat akan kisah cintanya dengan perempuan yang bernama Indah, dimana ketika Ia dipersinggahkan oleh Tuhan dengan sebuah masalah yang menurutnya sangat berat, waktu itu. Hingga kini pun Ia masih terus berjuang keras untuk memulihkan semua keadaan yang telah terbalik tempo hari, merajut asa dengan semangat yang telah lemah, sayapnya seperti dipatahkan.

            “Bukannya waktu itu kamu sendiri yang mengatakan ingin jeda Jun”?

Tanya Indah dengan sedikit lirih,

              “Benar Ndah, memang sudah seharusnya begitu”

            “Disaat aku terpuruk dan benar-benar butuh semangat, kamu kemana?”

            “Kamu sibuk dengan duniamu bukan? kamu sibuk dengan aktifitasmu, kamu sibuk bahagia dengan keseharianmu, lantas aku yang sedang remuk malah kamu abaikan”

            “Aku tidak menuntutmu untuk selalu menemaniku sepanjang hari, aku sadar waktu 24 Jam dalam satu hari tidak cukup untuk menggambarkan kesetiaan seseorang, Aku bahkan sadar jika seharusnya aku tidak meminta lebih kepadamu”

Juni terus menimpali, sementara suara Indah seperti tenggelam; terdiam.

            “Adakah kamu paham dengan perasaan hatiku Ndah?”

            Ekspektasiku terlalu besar padamu; kukira kamu rumah, kukira kamu payung teduhku, oasis ditengah gurun”

Juni tidak gusar, walaupun semua kata tertahan telah dilepas landaskan begitu saja tanpa memikirkan perasaan Indah yang sedari tadi hanya diam mendengarkan semua perasaan terpendam yang seolah ditumpahkan Juni begitu saja.

            “Maafkan Aku Jun”

Jawab Indah pelan, sangat pelan.

            “Sudahlah Ndah, baiknya semua kenangan indah tentang kita, jangan kita lukis dengan sebuah tangisan, biarlah menjadi kenangan yang tergambar abadi dalam hati dan pikiran kita”

            “Semoga kelak kamu menemukan sosok yang lebih sempurna dariku, lebih mengerti kamu dalam segala hal, tidak hanya kemauan bahkan kebutuhanmu juga”

            “Maaf jika selama ini Aku kurang memberikanmu yang terbaik, sekali lagi Aku minta maaf”

Tanpa menunggu jawaban atau semacamnya dari Indah, Juni akhirnya menutup teleponnya.

Bersambung.- 


Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise