Sajak - Sepenggal Surat Teruntuk Widuri Kegelapan


SAJAK - SEPENGGAL SURAT TERUNTUK WIDURI KEGELAPAN
oleh Aris Maulana
 
 
tulisan ini begitu sangat menyebalkan.
bait ini begitu sangat membosankan.
rima ini begitu sangat menjijikkan.
hari-hari penuh kelam terus bersahabat pada keegoisan.
begitu sangat semrawut, seumpama penari yang ku panggil "widuri kegelapan"
lenggak-lenggoknya penaka kiasan, menancapkan duri tajam dalam pikiran.
bahagia yang tak mampu membahagiakan; kesenangan lantas tak mampu menyenangkan.
tertawa yang tak mampu mengusir lara, apa yang masih tersisa? 


malam ini, di bawah remangnya purnama, ku sobek sedikit kenangan.
ku lipat, ku genggam sejawat rasa yang pernah remuk dengan begitu senyapnya.
aku harus kembali dengan tenang, merangkul jarak yang sempat terpisah.
ternyata harus ku sapih dengan sepucuk surat dalam mara.
keberanianku kelu untuk mengartikan sebuah pertemuan, aku takut ada rasa yang kembali;
meski telah ku rendahkan dalam sujud, ikhlaskan dalam doa, semogakan dalam amin.
rentetan air mata menandakan jiwa ini lemah dari sang maha iman.
pintaku belum dapat meminangmu dari takdir, harapmu terus dibawa jauh oleh penguasa ikatan.
 
walau begitu, cerita kita masih bersatu, menyatu dalam balutan ingatan yang kita sebut kenangan.
oleh karena itu, sepucuk surat berhembus dari sini.
sepucuk surat, teruntuk; "widuri malam"
mari kita menari dalam rembulan, dekap erat arwahku dalam kiasan
jamah tubuhku hingga lelah; memerah, atau berdarah, tusuk lagi dengan belati yang semakin terarah, semakin merajam
dialog aksara terus melayang, mengganti luka batin yang semakin mengais hambar.
tertebar wangi syair kehidupan yang terus mengusik kewarasan;
"ku nikahkan engkau, widuri malam dengan angin. dahaga sebagai walimu, bumi sebagai saksimu,benderang penghulumu". 

menarilah kau serupa mubram dalam hidupku.
musnahlah....... musnahlah...... musnahlah......


Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise