Monolog - Dua Puluh Tiga Juni Eps 3

 


#MONOLOG JUNI; DUA TIGA JUNI EPS -3 (ABIMANA JUNIANTO RUMI)        

  

        Cita-cita Juni sepertinya harus berakhir di meja kerjanya hari ini, dibandingkan dengan teman-teman seperjuangannya dulu boleh dikatakan Juni lah yang paling ketinggalan, seolah-olah Juni masih terperangkap dalam kepungan jaring nelayan di lautan dalam, belum lagi sugesti negatif yang selalu menghantui pada perasaan Juni setiap malamnya.

        Bekerja di perusahaan ternama; memperoleh penghasilan di atas 8 Juta sebulan, menjadikan hobby sebagai usaha sampingan, membangun usaha website undangan pernikahan, serta menikahi seorang gadis yang sangat dicintai, merupakan salah satu target jangka pendek yang belum di capai oleh Juni hingga hari ini. Kegiatan duduk-duduk di bangku kerja sambil menapat layar komputer sepanjang hari dengan alunan melodi musik Slank; memandang sudut-sudut ruangan kerja dengan untaian do’a dan harapan, seakan-akan telah mengubur mimpi yang tidak benar-benar bisa disebut sebagai mimpi. 

        Bukankah mimpi harus di wujudkan? Begitu pertanyaan yang selalu di rapal oleh orang-orang yang kerap kali tampil mengisi acara motivasi di layar kaca. Oleh sebab itu mulai sekarang Juni memutuskan untuk tidak menganut kepercayaan itu lagi, hiduplah sebagaimana mestinya, hiduplah dengan takdir yang telah ditetapkan oleh takdir. Tampaknya Juni sedikit pesimis hari ini. Sepertinya pengalaman tempo hari yang telah membuat mental baja juni runtuh. Pertanyaanya separah apa terpaan yang telah membuat mental sekeras mental Juni menjadi lemah? Persetan, lagi-lagi persetan.

        Juni pun akhirnya mengakses halaman Blogger dan membuka Blog tempat biasanya Juni menumpahkan semua keluh kesahnya dalam hidup. Benar saja, ada banyak baris puisi, sajak, juga narasi yang telah tersusun menghiasi halaman Blog tersebut,         

           "Suatu saat kumpulan tulisan ini akan menjadi sebuah buku"

           "Suatu saat kalimat kotor ini akan menjadi baris motivasi"

           "Suatu saat nanti……"

        Juni kemudian melanjutkan sebuah puisi yang kemarin sempat terhenti penulisannya. Tempo hari Juni telah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti event menulis secara online, “lumayan untuk melepas rasa penat” timpalnya. Juni melanjutkan puisinya, dengan cekatan keyboard Laptop kantornya di gunakan sebagai media penghubung untuk menuliskan bait demi bait, susunan rima yang terus berjejeran pada akhirnya membawa puisi tersebut telah berada di penghujung penyelesaianya. Juni mencoba membacanya perlahan, tampaknya tidak perlu ada polesan ulang, sudah cukup begini saja, alhasil semuanya terjadi seperti yang diharapkan.

Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise