June Monologue - Tentang Sebuah Kedewasaan


            “lakukan apa yang ingin kamu lakukan, soal mimpi itu urusan belakangan.”

            “pelajari apa yang ingin kamu pelajari, soal mengerti itu urusan nanti.”

            Semua kisah yang saat ini menghiasi janur kehidupan Juni bermula dari tidak tahu-menahunya tentang banyak hal mengenai sekian banyak cerita hidup yang selayaknya belum terasa ranum untuk dapat Juni cicipi, apalagi hingga mencobanya satu persatu. Upaya untuk mencicipi varian baru tentang rasa kehidupan yang membuat Juni semakin terlihat dewasa secara pemikiran, religius dalam bersikap, serta bijak menyikapi setiap persoalan dalam hidup. Juni meyakini hal tersebut merupakan langkah awal bagi dirinya, sehingga suatu saat nanti Ia telah layak menyebut dirinya sebagai Pria dewasa.

            Benar saja, kedewasaan banyak mengajari Juni arti sesungguhnya dari kehidupan, kedewasaan adalah tentang merelakan, bukan keegoisan. Kedewasaan berasaskan keikhlasan tanpa tumpuan, keikhlasan murni hadir lewat kepribadian yang telah diuji oleh berbagai macam peristiwa serta cobaan hidup yang bertubi-tubi, selayaknya sebuah meme yang Juni baca tempo hari; “Gudang Garam Surya, Pria Punya Masalah”, Juni terkekeh mengingat kata-kata tersebut, memang benar adanya, seorang Pria sungguh identik dengan permasalahan, Pria harus hidup dalam masalah, permasalahan membangun watak serta memperkokoh tingkat kedewasaan dalam diri seorang Pria. Sepertinya slogan tersebut sangat cocok jika disematkan pada diri Juni yang suka menghisap aroma tembakau signature rokok Gudang Garam Surya, sial.

            Adakalanya kedewasaan memacu seseorang untuk terus membangun kepribadian nan jauh lebih baik dari kepribadian yang dimiliki sebelumnya, bukankah tujuan hidup sejatinya yakni terus menjelma lebih baik? Ada banyak asumsi dari berbagai aspek yang membangun terori teori liar tentang bagaimana berprofesi baik yang benar-benar baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Toh tidak ada gunanya juga memerankan kebaikan untuk semua orang, bumi tempat kita berpijakpun rasanya tidak menghendaki hal tersebut; baik sewajarnya saja, baik sekadarnya saja, baik semestinya saja, duniapun tidak begitu baik untuk orang-orang baik. Persetan dengan kebaikan.

            Tampaknya Juni sedikit linglung hari ini, mungkin anemia. Telur ayam kampung yang direbus setengah matang rasanya sangat cocok untuk mengimbangi, dicampur dengan kopi pahit pun sudah barang tentu nikmat, atau dikocok sekalian dengan campuran saripati teh dan sedikit madu, membuat racikan telur ayam kampung menjadi semakin mempesona saja.

            “Benar, aku harus meminumnya nanti” ungkap Juni seperti kepada dirinya sendiri.

            Seiring berjalannya waktu, modifikasi ramuan-ramuan atau minuman-minuman tradisional yang faedahnya telah digeser oleh hadirnya obat-obatan atau suplemen, membuat racikan, atau olahan telur ayam kampung yang direbus setengah matang telah dianggap seperti selera kaum bapak-bapak saja. Ah sudahlah, yang penting manfaatnya bukan anggapannya.
        Banyak asumsi yang menjelma serupa opini, kemudian menggiringnya ke publik, hingga seterusnya dijadikan sebagai argumen untuk menjatuhkan suau hal yang dianggap kuno dan tidak kekinian, terkesan sedikit daif. Padahal jika ditinjau dari segi manfaat, suatu hal yang dianggap sepele dan remeh malah tersimpan komponen yang sangat menakjubkan. Beginilah zaman, sudah seharusnya begini.

Bersambung.- 

Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise