Monolog - Dua Puluh Tiga Juni Eps 2


 


#MONOLOG JUNI; DUA TIGA JUNI EPS -2 (ABIMANA JUNIANTO RUMI)


Malam semakin larut, Juni masih belum bergeming sedikitpun. Malam ini begitu lengang, jauh dari hingar bingar atau sorak-sorai gerombolan geng motor yang nongkrong di pinggiran taman kota. Dari atas balkon tampak  Juni yang merasa sedang bahagia, bahagia dengan cara yang paling sederhana, seperti mendapatkan harta warisan yang tidak ternilai harganya, asumsi Juni tentang arti kebahagiaan telah membawanya pada level filosofi terbaik saat ini. Juni seperti melihat wajah baru dari sebuah kebahagiaan yang telah lama sirna dalam dirinya.

 “Mungkin Aku sedang mendapatkan wahyu” Begitu  bisikan yang terdengar lewat indera Juni.

“Aku adalah Abimana Junianto Rumi” Besok akan kujemput bahagiaku dimanapun bahagia itu berada, yakinnya. Dengan sedikit rasa malas Juni bergegas masuk kedalam kamar tidurnya, sembari bergumam dengan sedikit lirih “Aku harus istirahat, tenagaku harus terisi untuk hadapi dunia yang lebih kejam besok” Dijamahnya Notes kecil di sudut meja kamar tidurnya, Juni kemudian menuliskan beberapa kata, “Aku telah bahagia malam ini” Lantas ditutup, kemudian di letakkannya kembali pada tempatnya, Juni akhirnya terlelap dalam senyuman.


Hari ini adalah hari ke-4 pada hitungan bulan Juni di tahun kerbau ini, rasanya belum ada gerangan spesial yang datang menghampiri; taksa. Kadang hari baik hanya akan menjadi manifestasi yang tumbuh kembang melengkapi asumsi pemikiran seseorang, namun pada kenyataannya semua hari adalah sama baiknya. Hari ini Juni masih melakukan aktifitas seperti biasanya, Ia bangun pagi kemudian masuk kerja, SPM Pajak Dinas sudah menumpuk, seakan menunggu jemari Juni untuk memilahnya lembar per-lembar. Juni bukanlah seorang pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil yang setiap harinya memakai pakaian dinas berwarna kuning atau pakaian Batik pada hari Kamis hingga Sabtu. Juni hanya seorang pekerja lepas yang di kontrak oleh salah satu instansi swasta yang berada di salah satu Kota. Aktifitas Juni pun sangat berfariasi, mulai dari membuat faktur pajak serta billing, merangkap menjadi desain grafis apabila sedang dibutuhkan. Apapun Juni lakukan demi mendapatkan lembaran merah uang kertas seratus ribuan setiap bulannya, walaupun jerihnya tidak seberapa, alhasil pendapatan Juni per-Bulan sudah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di kota kecil ini; membayar uang listrik rumah penginapan, wifi, air, bahkan rokok gudang garam surya yang sudah menjadi teman suka dukanya setiap hari.

Seperti yang telah dijanjikannya semalam, bahwa hari ini Juni akan menjemput bahagianya sendiri, bahagia menurut porsinya Juni, bahagia dengan cara yang paling sederhana; bahagia bisa menghisap rokok gudang garam surya sebungkus per-hari, bahagia bisa makan 2x sehari, bahagia bisa mendengarkan lagu Band Dewa 19 setiap habis magrib, merupakan macam-macam kebahagiaan yang telah dijemput oleh Juni sejauh ini.  

What The Hell” tiba-tiba Juni mengumpat, rupanya Juni sedang membuka salah satu media sosialnya; Instagram. Juni tidak ingin ambil pusing oleh gambaran sukses orang-orang yang memamerkan kesuksesannya di media sosial, teman seangkatannya pun yang Ia lihat di media sosial tersebut tidak ingin absen tampaknya. Diki teman seperjuangannya saat masih duduk dibangku SMA, juga sempat meng-upload foto liburan bersama rekan-rekan kantornya, lantas dilewatkan begitu saja oleh Juni.

“Tampang-tampang manusia yang punya cita-cita sepertinya” Juni menertawakan teman-teman Diki tersebut, Juni tersenyum dengan jokes yang Ia buat sendiri, bangke.

 Dewasa ini jual tampang sudah menjadi rahasia public untuk menjadi sesuatu yang diinginkan, “bagi yang bukan siapa-siapa mana bisa jadi apa-apa” latar belakang seseorang yang mempunyai garis keturunan sultan (sultan adalah sebutan untuk keturunan bangsawan, hartawan atau orang yang terlahir dengan harta yang berlimpah) seolah telah menikung semua persepsi yang berseliweran dalam imajinasi khalayak ramai. Takdir hidup semua orang memang sudah digariskan sebelum Ia dilahirkan, namun seseorang dapat merubah semua itu dengan usaha serta kerja keras, tapi tidak bagi mereka para sultan atau keluarganya sultan, rasanya jadi sangat mudah untuk mendapatkan tempat terbaik dari setiap pekerjaan yang diinginkan. Bayangkan saja jika kamu memiliki family seorang kepala dinas; maka kamu akan dengan mudah masuk kedalam instansi terkait tanpa harus melewati proses yang panjang serta perjuangan yang melelahkan. Begitulah alur kekuasaan yang dimainkan oleh rezim sekarang, seolah rakyat jelata tidak mendapatkan kursi di perjamuan makan para bangsawan, ironis.

Persetan dengan hal tersebut, daripada membahas hal-hal seperti itu Juni memilih untuk menertawakan hidupnya yang sedang berantakan saja. Tidak ada lelucon yang paling menggelitik selain menertawakan kisah kelam yang pernah dirasakannya tempo hari; kehilangan pekerjaan, kaburnya pacar, hingga terlilit utang puluhan juta rupiah, semua itu telah membuat Juni sadar akan arti kehidupan yang sesungguhnya. Juni telah paham apa itu sebuah pengorbanan, kesetiaan, bahkan kedewasaan yang sebenarnya.

“Sudah selesai faktur pajaknya?” suara lembut dari belakang telah membangunkan lamunan Juni.

“Sudah bu, sudah saya letakkan di meja bos sekalian dengan tanda tangan Beliau” dengan sedikit senyuman Juni membalas pertanyaan wanita paruh baya tersebut.

“Kalau begitu terimakasih ya!” ucapnya lagi

“Baik bu sama-sama" Juni kembali melempar senyumnya.

 

.- Bersambung.


Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise