Monolog - Dua Puluh Tiga Juni

#MONOLOG JUNI; DUA TIGA JUNI

Bulan ini merupakan bulan ke enam tahun dalam hitungan Kalender Gregorius, tampaknya Juni masih belum bergegas hengkang dari alas duduknya, belum hendak ingin menerbangkan jasadnya menuju romansa alam bawah sadarnya, kata orang; tidak ada saat yang lebih membuatmu bahagia dalam hidup ini kecuali pada saat kamu tertidur, entah itu mitos ataukah sebaliknya, yang jelas jarum jam sudah menunjukkan pukul 00:00 WIB. Di sudut sana tampak Juni masih belum terlelap, Ia lantas masih terus memperhatikan laju kendaraan bermotor dari atas balkon rumah penginapan yang Ia tumpangi saat ini. 

 
Apa yang Ia rasakan tentunya menjadi eulogi yang membuatnya sangat sukar untuk sekadar ikut mempertemukan banyak bulu pada dua kelopak matanya, sebuah pilihan untuk menjadi pribadi yang "Masa Bodoh" serta-merta telah menuntun pola tingkah yang dianut oleh Juni saat ini; telah menjadikannya nyaman saat mencoba berbeda dengan orang lain. Gelagatnya memang terlihat kurang baik, namun tatapan lekat-lekat dari kegagalan yang dialami olehnya beberapa pekan terakhir telah membuat Ia ingin mengutuk serta mengacungkan jari tengah pada siapa saja yang pernah menjadi prioritasnya kala itu, ada banyak hal yang Ia rasakan hilang saat sebuah ketimpangan menyelimutinya; teman, sahabat, keluarga, bahkan pacar. "F*ck Everywhere" hanya suara gemeretak yang hendak keluar dari celah-celah giginya.

Inilah yang dinamakan dengan hidup, terkadang semuanya berjalan tidak sesuai dengan harapan, ada banyak hal yang datang dan pergi secara bersamaan, ada banyak pula pelajaran yang telah diambil dari permasalahan yang terjadi, sejatinya permasalahanlah yang mengajari Juni bagaimana untuk menjadi dewasa seutuhnya. Sejauh ini Juni semakin sadar jika tertawa itu bukan untuk dinikmati bersama, tertawalah dengan mereka yang mau menangis bersamamu. Hidup terkadang begitu sederhana, biarkan mereka menjadikanmu bahan lelucon untuk candaan warung kopi mereka, toh secara tidak sadar mereka telah menaruh simpati pada hidupmu, walau hanya sepintas lalu.

Juni melirik arloji kayu di tangan kanannya, "Sudah tanggal 3" berarti sudah 3 hari berlalu, bulan di mana Juni lahir. Ya, tanggal dua puluh tiga juni merupakan hari bertambahnya usia bagi Juni. "Nothing Special" endus Juni dalam kegelapan, setidaknya melihat kedua orang tuanya yang bahagia saja sudah menjadi kado terindah dalam hidupnya, namun hal tersebut belum akan terwujud di hari ulang tahunnya nanti, sepertinya. Juni masih belum punya banyak cara untuk membuat kedua orangtuanya bahagia, hanya do'a yang selalu Ia panjatkan semoga kedua orang tuanya selalu diberikan limpahan rezeki, rahmat serta keberkatan umur hingga suatu hari nanti dapat dengan bangga menatap kesuksesannya; hanya itu pinta Juni.

Malam semakin larut, sepertinya dikota tidak ada kunang-kunang, Juni kembali teringat kampung halaman yang telah lama ditinggalkannya, rasanya rindu; oh ternyata bukan, Ia hanya tidak ingin mengingat saja. Ada banyak orang yang marah pada suatu hal yang dianggap sepele; tolong tanyakan pada dunia apakah manusia ini diciptakan oleh Tuhan dalam satu jenis saja? jika tidak, kamu mungkin sudah menemukan jawabannya. Sontak Juni tersadar, ternyata lamunannya telah memberikan secercah cahaya dalam kegelapan otaknya. Tiba-tiba dengan bijaknya Juni berseloroh, seperti tanpa tujuan yang pasti, Ia seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Aku telah bahagia" Sepertinya begitu, Juni terjun ke ruang kosong dalam pikirannya hanya untuk mengambil rasa bahagia yang mungkin sudah terperosok jatuh entah ke mana, hingga Ia pun bingung ingin merasakan bahagia yang bagaimana lagi. Padahal bukankah skala kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda? Seperti seseorang yang merasa bahagia walaupun hanya menjadi buruh bongkar muat semen saja; bahagia walaupun pekerjaan orangtuanya sebagai juru parkir atau petugas pengangkut sampah. 

"Ah persetan dengan kebahagiaan yang diartikan oleh semua orang" 

Lantas tidak ada yang lebih menyenangkan daripada merasakan kebahagiaan dengan cara yang paling sederhana, dan mungkin ini adalah cara paling sederhana yang sedang Juni lakukan untuk kembali dapat merasakan kebahagiaan. Sangat sederhana bukan?

 

Bersambung.-




Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise