Monolog - Tentang Sebuah Tulisan (episode 2)

#MONOLOG JUNI
TENTANG SEBUAH TULISAN (RINDU) - (EPS 2)


Tulisan Juni pekan ini tampak hilang, bukan hendak menghilang untuk selamanya, hanya saja Juni telah sepakat pada otak dan juga tangannya untuk berhenti berpikir dan menulis sejenak saja. Ia memutuskan untuk tidak terlalu sering menulis lagi akhir-akhir ini, bukan karena buntu, akan tetapi katanya butuh jeda untuk tidak terlalu larut dalam imajinasinya yang semakin menggebu-gebu. Juni tahu jika hatinya sedang rindu beserta pilu, menurutnya tulisan saja tidak mampu mewakili tabrakan rasa yang hadir secara bersamaan ini, sangat merepresentasikan jiwanya. Juni pun tahu tulisannya hanya menjadi alternatif pengobatan saja, mungkin salah satunya mengobati rasa rindu, maybe. Tentu bukan penyembuh untuk dapat bertemu. Begitu tafsirnya, alhasil Ia mengambil jeda.

Di sela-sela hiruk pikuk Provinsi ini, Juni mulai sadar jika Ia sangat beruntung sudah melaluinya sejauh ini, bukan karena Ia hebat, mungkin hanya karena tidak ada pilihan lain saja, begitu sangkanya; Takut?, Jawabannya iya, Juni sangat takut pada takdir, namun ia lebih memilih untuk tidak ingin berlutut pada kenyataan. Ada seribu satu cara baginya untuk dapat bangkit dari hal serumit ini, namun belum ada yang bisa Juni jadikan prioritas di saat genting seperti sekarang ini, gejolak rasa yang selama ini terus mengembara dalam jiwanya, serasa ingin ia bakar agar menjadi abu kenangan yang bisa ia hembuskannya esok hari. Entahlah.

Tempo hari Juni memutuskan untuk menyudahi tulisannya, sepertinya permasalahan hidup sekaligus perasaan rindu berkecamuk yang membuatnya tidak ingin terus larut dalam memorabilia, lagi pula gejolak rindu yang ia rasakan beberapa pekan ini, sepertinya belum membuahkan arti, jadi maaf. Mungkin saja hal tersebutlah yang menjadi alasan utama Juni untuk menyudahi berpacu stamina dengan rindu yang ia rasakan.
"Hufff......"
 
Di penghujung hembusan rokok Gudang Garam Surya yang Juni hisap sedari tadi, rupanya telah membuang banyak harapan dalam khayalan asap yang terus menggelembung di depan wajahnya, melayang hingga tak menentu, sepertinya mengikuti arah angin barat yang terus berhembus sepoi-sepoi, entahlah siapa yang dapat menyangka itu. Asap rokok yg Juni hempaskan di ujung komat kamit diamnya tadi ternyata bukan fiktif belaka, pasalnya semua harapan itu sengaja Juni tuju kepada sosok tunggal yang ia harapkan dapat mengerti tentang tafsiran tersebut, 
"Tolong singkirkan perasaan rindu yang memeluk pikiranmu atas ingatan namaku, walaupun hanya sebesar zarah"  begitulah isi harapan Juni. Kemudian entah angin dari mana, tiba-tiba tepukan seseorang pada pundak Juni mengejutkan si gempal bermuka kusam tersebut.
"Woiiiii, ini sudah sore, masih saja kamu di sini Jun?"
Suara tersebut mengejutkan lamunan Juni, suara parau dari seseorang yang sangat candu dengan rokok daun nipah, om Sabri namanya, akhirnya telah membuyarkan lamunan Juni tentang angan-angan yang sedari tadi terus berdansa dengan mesra dalam fikirannya, 
"masih saja  bergelut dengan permasalahan hidup yang sepertinya belum akan usai hingga akhir episode ini om". Juni bergumam tanpa ditanya, kemudian disambut oleh gelak tawa keduanya, om Sabri lantas mengeluarkan daun nipah beserta tembakau kesukaannya dari saku baju kemeja kotak-kotak yang ia kenakan, sudah agak lusuh juga kelihatannya,
"rasanya masih ada celah yang harus ku tutupi agar kelengkapanku yang dulu kembali terisi om" Juni meneruskan, sepertinya tertuju ke arah om Sabri, 
"Aku merasa hilang arah saat ini, bukan tentang kehilangannya, tapi tentang kehilangan separuh dari harapan yang selama ini terus hidup sebagai acuan semangat dalam hariku" Seloroh Juni semakin tidak karuan, entah om Sabri mendengar ocehan Juni atau tidak, yang terdengar jelas hanya suara knalpot kendaraan yang berlomba-lomba menunjukkan kenyaringannya. Juni melirik ke arah om Sabri, tampaknya ia hanya acuh tak acuh, Juni kembali melanjutkan ocehannya yang sempat ia hentikan tadi, 
"Permasalahan ini begitu berat om, hingga pernah saja aku ditinggalkan hanya karena seseorang yang tidak ingin menghargai proses dalam hidupku" om Sabri masih fokus pada daun nipah yang sedang di gulung dengan tembakaunya,
"tapi tak mengapa om, aku tidak bisa mengintimidasi hak seseorang untuk tetap tinggal atau memilihnya untuk pergi, tuhan masih sangat baik untuk menjelaskan siapa yang terbaik atau tidak kepadaku" Akhirnya om Sabri terkekeh sendiri, 
"Kamu ini ngomong apa sih Jun?" dari tadi kudengar sepertinya kamu mengigau, 
"ini mau?" sembari menyodorkan rokok daun nipah beserta tembakaunya, Juni terbahak, 
"ha ha ha" tidak om terimakasih, sepertinya om Sabri tidak menanggapi ocehan Juni dengan serius. 

Akhirnya om Sabri pergi meninggalkan Juni sendirian, 
"Jun, jangan sampai gila ya!" lambai tangan dari om Sabri, lantas ia pergi meninggalkan Juni yang tampaknya sangat menyedihkan. Juni yang mulai bijak akhirnya sadar jika permasalahan yang ia alami saat ini telah membuat dirinya banyak belajar dari kepahitan dan kepiluan. Semua orang pasti akan percaya jika hal yang baik membutuhkan sebuah proses, dan proses tidak akan mengkhianati hasil yang baik pula, kali ini syukur Juni semakin bertambah, ia bersyukur jika ia tidak tinggal lebih lama dengan takdir yang tidak baik untuknya.

Kepergian om Sabri seolah membawa Juni kembali ke alam sadar jika harusnya Juni tidak ambil pusing untuk memikirkan hal tersebut, toh untuk memikirkan dirinya saja sudah berat, apalagi harus membagi pikiran untuk memikirkan hal lain, Juni kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menyusul om Sabri yang telah lebih dahulu meninggalkan Juni sendiri. "om tunggu" begitu panggil Juni.

.-Bersambung....


Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise