Monolog - Harga Diri

 

                     [source]


#MONOLOG
HARGA DIRI - (EPS 1)
 

Sepintas lalu memang hanya berupa kendaraan roda dua pada umumnya, orang-orang di Acehpun sering menyebut kendaraan roda dua dengan sebutan Honda, apapun Merk-nya, tetap saja; Honda sudah menjadi lakab untuk lisan semua orang di Aceh. Namun siapa sangka jika motor tersebut telah menemani Juni di sepertiga kehidupan mencari jati dirinya, bahkan telah dibawa hampir ke semua sudut tempat yang ada di Provinsi paling barat pulau Sumatra; Aceh lebih tepatnya, Juni menamakannya dengan "Si Agam". Oh ya! sebutan "Si Agam" sendiri dalam bahasa Aceh berarti anak laki-laki, ya seperti itulah harapan Juni kepada motor kesayagannya semoga selalu menyerupai sikap lekai-laki yang pantang menyerah, tidak manja, serta mampu membawa Juni kemana saja yang Ia mau.

Terlepas dari penamaan tersebut ternyata beberapa tahun terakhir ini, telah banyak orang sekaligus karakter yang dihadapi oleh Juni. Benar saja, pada suatu hari tepatnya 2 tahun yang lalu Juni melakukan perjalanan menuju ke kampung dimana dulu disanalah Ia habiskan masa kecilnya dengan perasaan riang serta gembira; Banda Aceh. Juni berteduh pada salah satu tempat di pinggiran jalan lintas kawasan Aceh Besar tepatnya di jalan Seulawah, pas dibawah sebuah pohon yang tumbuh dengan sangat rindangnya, seakan mendapatkan tambahan oksigen alamiah dari si batang pohon tersebut, lantas Juni mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnyai, sembari membuka tutup botolnya Juni terpana melihat gerombolan monyet yang meramaikan sudut jalan sebelah utara, "oh ternyata ada pengguna jalanan yang turun sembari meletakkan setandan pisang raja, maklum monyet-monyet di jalanan ini sudah terbiasa dengan perlakuan dari pelintas atau orang-orang yang memberi mereka makanan. 

"Sudah semakin gemuk saja mereka" 

disusul gelak tawa Juni.

Baiklah, akhirnya Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Dalam perjalanan Juni melihat ada beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya pada sebuah deretan bangunan kayu, lebih mirip sebuah gubuk sebenarnya, sepertinya ini adalah pedagang buah-buahan, karena secara spesifik ada beberapa jenis buah-buahan seperti pisang, labu, mentimun yang di letakkan di atas meja tanpa adanya taplak meja, hingga ada juga beberapa botol air nira yang sepertinya masih sangat baru, yang membuat Juni terkesima adalah sepasang pasutri yang duduk di sebelah meja tempat botol air nira diletakkan, rupanya mereka kelelahan karena ban motor yang mereka tumpangi baru saja bocor, mungkin mereka berteduh sembari menunggu ban motornya selesai ditambal oleh tukang tambal ban di seberang jalan.

Siang itu cuaca sangat panas, matahari yang begitu terik membuat siapa saja yang melintas seakan berfikir jika ini seperti berada di tengah gurun pasir yang tandus dan gersang, untuk berfikir negatif saja susah, apalagi untuk berfikir positif, sepintas lalu pikiran Juni teralihkan pada bayangan suami isteri dan juga pedagang pinggir jalan tadi. Juni menerka-nerka, jika ada sangat banyak orang dimuka bumi ini yang berjuang mati-matian hanya untuk mengejar sebuah materi, terbukti walaupun panas terik matahari yang sangat menyengat ada pula yang rela menutupi rasa malu dengan menambal ego mereka dihati, demi menjadi apapun, bahkan untuk siapapun, hanya mengejar materi. Juni merasa hal tersebut semakin terlihat logis karena pasang surut dalam menjalani problema hidup yang semakin lama semakin terlihat ruwet terus terasa nyata adanya,  

jika sekarang di puncak belum tentu esok nanti akan sama, jika sekarang di dalam karang, belum tentu esok masih di sana. Hal yang membuat kita bahagia pada hari ini justru belum tentu dapat membuat kita terus bahagia di masa yang akan datang. Hidup ini tentang sebuah perjuangan dan ujian. Siapkah kita menghadapinya? Ada banyak masalah menanti, ada banyak rintangan yang harus di daki, hidup bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang seberapa banyak pengalaman yang sudah kita lalui, dimanapun itu, kita pasti bisa, apalagi untuk bangkit dari keterpurukan, selalu saja ada caranya, temukan itu!

"JANGAN PERNAH MENGHARAPKAN SUATU HAL PADA MANUSIA, APALAGI MENGHARAPKAN PERTOLONGAN, INGAT KAMU BUKAN PENGEMIS, CUKUP MENGHARAP PADA TUHANMU SAJA, SESAMA MANUSIA AKAN MENGGANGGAPMU PENGEMIS KETIKA KAMU HENDAK MEMINTAI PERTOLONGAN"

Akhirnya ada banyak karakter yang pola tingkahnya tercipta secara spontan, mencoba untuk meminta sedikit harapan pada mahkluk sejenis,
rasanya merupakan hal paling memalukan sejagad raya ini, percaya tidak percaya, lantas itu yang pernah dirasakan oleh Juni. Hingga akhirnya Juni hanya menjalankan apa yang sudah tuhan takdirkan pada hidupnya sekarang, tidak ada sedikit keluhanpun yang menyelimuti pola pikir Juni, apalagi berniat hendak menyerah, kelak Ia akan lebih menghargai artinya kemenangan ketika Ia sudah lelah mengalah. Motifasi yang dibuatnya sendiri tersebut telah membuat Juni sedikit apatis namun telah terlihat lebih rasional dari sebelum Juni memikirkan hal tersebut.


.-Bersambung . . . 



Posting Komentar

advertise
advertise
advertise
advertise