Sajak - Tentang Hampir

Aris Maulana

Tentang Hampir

Ku rasa buana begitu bergetar malam ini
Tampak serayu pada lembah hitam curam nan pitam
Patala serta nabastala yang akrab bak satu ibu
Hampir menyatu, bersatu. Tidak untuk berseteru

dalam kegamangan ilusi tentang tatap rupamu, ucap mantramu.
Ilustrasi titik temu dalam jeremba rasamu
Mencuat dengan sangat kalisnya
Harsa yang tercipta sebegitu sederhananya,membuat dewanaku terus mendebarkan hati.
Mengaliri seluruh tumpukan darah pada urat nadi.

Saat sebuah hampir menggandeng harapku dalam tundamu yang terpinta.
di mana laraku terus berkecamuk, saat awan cerahku kau tarik pada mendungnya bumantaramu.
Seperti simbol kata pisah antara lahirku dengan zaminmu.

Dunia imaji kita telah terpisah sekarang, sangat lenggana, bukan sumarah.
Bahkan tentang cara merelakan yang terasa begitu lumrah.
Begitu pedar.
Ingatan senja yang terus saja menyampahi otak kosongku, seperti singgasana layar tanpa nirmala.
Tertampak, ternanar.

Akhirnya sadarku kembali menghampiri
Seolah-olah lamun menunggang harum memekarkan wangi
Nyatanya, rasa ikhlas yang menjawab diksi.
Tanpa elegi.
ini hanya sekuntum huruf yang telah bersemi.
Resmi menjamah delusi hingga ke ufuk pelangi.

Selamat jalan arwah penyambut pagi, titisan roh suci.
Tempat singgahan sang jati diri, yang selama ini indah menghampiri.
Ku coba merelakannya pergi, walaupun paras terlihat tanpa seri
Setelah sempat bersama mencari arti, setelah sebuah hampir yang tidak mungkin dapat menjamah akhir.
Kebersamaan ini hanya sebatas mimpi.
Sudah terpatri, memugar kisah dalam ilusi, menjamah intuisi.


Aceh, 23 Januari 2020

`