Sajak - Cerita Lupa

Aris Maulana

Cerita Lupa

Ingatkah saat hari pertama kita bersua?
Ingatkah saat kepingan rindu telah menjamah pikiran kita berdua?
Ingatkah saat larik sajak menyusun bait-bait puisi indah tentang cintaku-cintamu dalam doktrin kita?
Tapi, mengapa saat ini kita mencoba untuk lupa
Mencoba untuk saling tidak menyapa.

Bukankah dulu kita pernah bersama satu rasa?
Bersama menyanyikan bait lagu cinta.
Mengayuh kesadaran hingga ke ujung dermaga.
Bernyanyi mengungkap rasa yang tidak dapat diungkapi kata.
Kita menulis larik indah dalam lembaran lagu cinta.
Kita melebur bersamanya.

Kau Tahu, Aku ada di puncak pergelaran rindu yang merundung ingin bersama?
Ketika mengingat genggaman tanganmu di sana,
Peluk tubuhmu memanja.
Aku seperti selalu ada dalam kenangan bahagia, tanpa luka.
Meski belati menikam lara
Meski peluru menembus dada
Penaku tidak ku tuntun menulis sajak dalam lupa
Walau tintamu telah mendua
Alam khayalku kau durhaka
Menduga hingga tak terhingga

Aku di sini masih rindu kita tertawa
Melepas ria serta canda di ujung gelak tawa
Tanpa dugaan prasangka
Tanpa tetesan air keluar mata
Tidak menyanggul rindu di ujung nestapa

Akhirnya ku ucap selamat malam pada sajak-sajak yang binasa
Aku masih di sini, memugar ini cerita
Agar tak luput di makan usia

Aku masih di sini
Mencoba menerangi gelap daksa di ujung temaram lara
Walau tanpa irama
Walau tanpa rima
Hanya sumbang nada
Bukan kata
Apalagi bicara

Aceh, 31 Februari 2020


`